Surabaya, 15 Maret 2025 – Dalam upaya meningkatkan efektivitas komunikasi dan pendampingan terhadap generasi muda, SMP Al Hikmah Surabaya mengadakan sesi pembinaan guru bertajuk Beradaptasi dengan Gen Z: Pendekatan Efektif dalam Berkomunikasi dan Optimalisasi Pendampingan. Kegiatan ini menghadirkan ibu Meutia Ananda, S.Psi., M.Psi., seorang psikolog sekaligus dosen Psikologi UINSA, sebagai pemateri utama.
Ibu Meutia Ananda menjelaskan bahwa memahami karakteristik generasi muda menjadi kunci utama dalam membangun komunikasi yang efektif. Gen Z (kelahiran 1997–2012) dan Gen Alpha (kelahiran 2013 ke atas) memiliki pola pikir dan gaya komunikasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Salah satu tantangan terbesar dalam berkomunikasi dengan mereka adalah rentang perhatian yang lebih pendek, serta kecenderungan mereka untuk lebih responsif terhadap media visual dibandingkan komunikasi verbal konvensional.
Dalam sesi pembinaan ini, pemateri menekankan bahwa strategi pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan psikologis anak. Pada usia tujuh tahun ke atas, sangat penting untuk mulai menanamkan norma dan nilai-nilai moral hingga mereka mencapai usia 14 tahun. Pendidikan norma harus dilakukan dengan kepastian dan konsistensi agar anak-anak memahami batasan yang jelas dalam kehidupan sosial mereka. Selain itu, Meutia menegaskan bahwa kesehatan mental tidak bisa dijadikan alasan untuk menggeneralisasi perilaku anak; setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda dan memerlukan pendekatan yang sesuai.
Dalam menyampaikan norma, pendekatan komunikasi yang tepat sangatlah krusial. Guru dan orang tua diharapkan mampu menyampaikan aturan dengan pengendalian emosi yang baik, sehingga pesan yang diberikan dapat diterima dengan lebih efektif. Kesadaran diri (self-awareness) juga perlu ditingkatkan dalam diri anak, agar mereka lebih memahami dan mengelola emosi serta tindakan mereka sendiri.
Salah satu aspek yang tidak kalah penting adalah membangun koneksi emosional dengan Gen Z dan Gen Alpha. Hal ini dapat dilakukan dengan cara tidak menghakimi mereka, memvalidasi perasaan mereka, serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Selain itu, transparansi dalam komunikasi menjadi faktor penting. Guru dan orang tua sebaiknya menjelaskan alasan di balik setiap aturan dan keputusan yang dibuat, sehingga anak merasa dihargai dan lebih memahami tujuan dari aturan tersebut.
ibu Meutia juga menyoroti pentingnya penggunaan media yang familiar bagi generasi muda, seperti WhatsApp, Instagram, atau video call, sebagai sarana komunikasi. Namun, komunikasi langsung tetap harus mendapat porsi yang lebih besar agar hubungan emosional yang lebih dalam dapat terjalin. Untuk mendukung pemahaman norma dan akhlak, penggunaan elemen visual dalam penyampaian pesan sangat dianjurkan.
Selain itu, anak-anak juga perlu diajarkan keterampilan komunikasi yang baik agar mereka mampu mengekspresikan perasaan dan pendapat mereka secara sehat. Dengan pendekatan yang tepat, generasi muda tidak hanya mampu berkomunikasi dengan baik tetapi juga tumbuh menjadi individu yang memiliki karakter kuat dan nilai moral yang kokoh.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif, di mana ust dan usth peserta dapat bertanya langsung kepada pemateri mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam berkomunikasi dengan siswa. Harapannya, pembinaan ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas bagi para pendidik dalam membangun hubungan yang lebih baik dengan generasi muda serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan suportif.